November 28, 2019

BEGAWAN BAGASPATI

(Catatan lalu, Desember 2015)

Senin soré. Selepas seharian tidak ada menghubungi, akhirnya ia pun muncul dengan menanyakan kabar, diakhiri dengan kalimat: “Bolehkah saya Video Call? Satu menit saja”.

Saat pertama kali muncul di layar, wajahnya terlihat sangat lelah, kusut, dan lingkaran matanya terlihat hitam. Pikiran untuk mengintrogasi tentang sikapnya yang beberapa hari ini cenderung dingin, dibuang jauh-jauh. Ini bukan waktunya. Di sisi lain saya pun mengerti, ia sibuk sekali, banyak tugas luar kota yang harus ia penuhi.

Di layar, tatapannya sedikit aneh. Gak tau, apakah tatapannya itu memendam rasa rindu atau karena memendam rasa kantuk. Sebab yang tampak matanya begitu sayu tapi memendam sesuatu.

“Bagaimana kabarnya?” ucapnya pelan. Saya pun menjawab sesuai dengan keadaan dan percakapan kami pun berlanjut kepada hal-hal yang tidak penting. Hingga akhirnya obrolan kami buntu, dan kita sama-sama terdiam. Entah apa yang harus dibahas dan dibicarakan.

“Saya ngantuk,” ungkapnya.

“Terus kalau kamu ngantuk, baru menghubungi saya?” tanyaku, yang dijawabnya dengan sebuah tawa. Kemudian kami terdiam kembali.

“Saya akan berbicara tentang Onomastik, Kamu tau Onomastik?” tanyaku, untuk menghilangkan kesunyian kami.

“Tidak” jawabnya singkat, dan ia mulai membetulkan posisi duduknya.

“Onomastik itu adalah ilmu yang mempelajari tentang pemberian nama…. Naming…. seperti nama-nama makluk hidup, nama tempat, nama jalan, termasuk nama manusia. Nah, tentang nama manusia, setiap orang tua memberikan nama kepada anaknya itu selalu dibarengi dengan kehati-hatian. Nama itu layaknya do’a dan harapan.” Jelasku. “Oh, ya. Apakah kamu tau arti namamu?” tanyaku.

“Enggak,” ia termenung dan berfikir beberapa saat. “Sepertinya artinya adalah…… ganteng,” jawabnya dengan percaya diri sambil tertawa ngakak. Kutanggapi dengan sedikit senyuman sambil mengerenyitkan dahi.

“Dalam jagat pewayangan Jawa, tokoh yang dianggap paling sakti adalah seorang resi bernama Bagawan Bagaspati. Ia memiliki Ajian Candrabirawa, sehingga tidak bisa mati, kecuali atas kemauannya sendiri. Bagaspati mempunyai watak sabar, ikhlas, percaya akan kekuasaan Tuhan, rela berkorban, dan sangat sayang terhadap sesama.” Jelasku, dan kulihat dia mulai duduk menyenderkan punggung dan kepalanya ke senderan kursi. Sepertinya ia tidak terlalu tertarik dengan apa yang dibicarakan. Karena terlihat di layar ia mulai terkantuk-kantuk.

“Kamu tahu siapa nama Bagawan Bagaspati semasa muda?” tanyaku, seolah membangunkannya dari rasa kantuk. Ia pun menjawab hanya dengan gelengan kepala.

“Nama masa mudanya adalah BAMBANG ANGGANA PUTRA! Karena itu, Bambang adalah nama yang paling diidam-idamkan setiap orang tua. Sebab mereka memiliki harapan anaknya memiliki karakter seperti Begawan Bagaspati. Jadi intinya Bambang itu memiliki arti kesatria. Pribadi yang memiliki budi pekerti luhur, welas asih, dan suka menolong. Di Jawa tak ada nama yang lebih disenangi orang tua di masa lalu maupun masa sekarang, kecuali Bambang. Bambang selalu membawa berkah bagi sesama.” Jelasku lagi

“Ya iyalah jelas saya memang membawa berkah dan baik hati, selalu menolong dan memberi dengan iklas,” katanya dengan PD.

Aku pun ikut ketawa mendengar itu. “Iya emang, kamu baik koq” potongku, “Kamu tuh emang welas asih kepada semua orang. Apalagi perempuan…. Asihmu disebarkan di mana-mana, jadi pantas kalau banyak perempuan yang ngejar.” tambahku sambil tertawa ngakak.

“Wah, itu gak benar!” katanya, membela. Kita berdua akhirnya ketawa ngakak gak jelas seperti orang gila. Sehingga tanpa sadar, Janjinya untuk Video Call 1 menit itu…. pada ahirnya menjadi 1 jam 30 menit.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *